Wednesday, 08 September 2010

Newsflash

Who's Online

We have 9 guests online
SELAMAT DATANG DI FANIA ERSA PRATAMA -

  Active Image

  Active Image

  Active Image

  Active Image

  Active Image
 

 

 Details...


Get This? Newsflash Scroller PRO for Mambo 4.5.1, © 2004 webraydian.com

Syndicate

Ayo! Terapi Hormon Biar Nyaman Semasa Menopause PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 04 November 2009
Pdpersi, Jakarta - Pilihan terapi hormon yang baru, berisi estradiol dan drospirenone, dianggap efektif mengatasi gejala menopause. Efek terapi ini mengurangi keluhan rasa kembung, juga berkurangnya efek samping lain yang berhubungan dengan penahanan cairan tubuh yang kerap dialami pada penggunaan terapi hormon konvensional. Dengan demikian, para perempuan menopause dapat hidup nyaman untuk tetap melakukan aktivitasnya. Menopause adalah proses alami yang tak dapat dicegah. Menopause didefinisikan sebagai suatu saat setelah 12 bulan tanpa haid (amenorea). Usia rata-rata seorang perempuan memasuki masa menopause adalah 51 tahun.

Saat menopause, perempuan mungkin mengalami beberapa tanda dan keluhan, akibat menurunnya kadar estrogen yang dihasilkan oleh ovarium (indung telur).

Gangguan karena kekurangan estrogen pada masa menopause biasa disebut gejala klimakterik yang mungkin berlangsung mulai pada masa perimenopause (sebelum usia menopause) sampai dengan masa pasca menopause. Dimana perubahan awal yang dapat dideteksi adalah perubahan siklus haid. Siklus haid dapat menjadi pendek atau panjang, jumlah perdarahan dapat berkurang atau bertambah.

Gejala lain akibat penurunan hormon estrogen adalah semburan panas (hot flashes), berupa perasaan terbakar pada bagian tubuh atas, wajah dan leher yang mungkin terlihat memerah. Sedangkan beberapa gejala lain yang bisa dialami perempuan menopause adalah gangguan pada saluran kemih dan vagina, sulit tidur, mudah tersinggung, badan terasa tidak nyaman.

“Bagi kebanyakan perempuan, gejala-gejala ini menimbulkan stres dan sulit dihadapi, seringkali bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari sehingga berdampak negatif pada kualitas hidup dan rasa percaya diri,” ungkap Prof Dr Ali Baziad SpOG (K) di Jakarta, pekan silam.

Beberapa dampak menopause jangka panjang akibat turunnya estrogen ini, kata Prof Ali, antara lain adalah pengeroposan tulang (osteoporosis) dan penyakit jantung. Kelanjutan dari turunnya estrogen mengakibatkan hilangnya kalsium dari tulang, sehingga tulang menjadi mudah patah.

Sedangkan pada jantung, estrogen bekerja memproteksi jantung dengan memicu kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) di dalam darah. Dengan turunnya estrogen pada masa menopause, efek proteksi ini ikut menurun sehingga risiko perempuan menderita penyakit jantung koroner akan meningkat tajam.

“Kurangnya pemahaman mengenai menopause, menempatkan perempuan berisiko terhadap penyakit jantung koroner dan osteoporosis,” papar Prof Ali.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, sebanyak 5.320.000 perempuan Indonesia dari total penduduk tahun 2008 memasuki masa menopause per tahun. Sementara itu, survei di negara-negara Asia-Pasifik yang dilakukan April 2008 mencatat, sebanyak 68% perempuan menopause menderita gejala klimakterik, namun hanya 62% dari mereka yang menghiraukan gejala tersebut.

Menopause merupakan saat kritis dalam kehidupan perempuan yang mendekati usia paruh baya dan sangat memerlukan penatalaksanaan yang sesuai. Perubahan gaya hidup, misalnya dengan pengontrolan berat badan, meningkatkan latihan fisik, penghentian kebiasaan merokok dan pengurangan konsumsi alkohol, merupakan beberapa rekomendasi utama yang biasanya diberikan oleh para ahli kesehatan kepada para perempuan yang memasuki tahap menopause untuk meningkatkan gaya hidup sehat.

Rekomendasi terakhir dari International Menopause Society (IMS) menyatakan bahwa terapi hormon (TH) merupakan pilihan terapi utama untuk menghilangkan gejala-gejala menopause. Sebagai tambahan, data yang diperoleh dari penelitian meta analisa menyatakan bahwa TH menurunkan tingkat kematian (mortalitas) akibat penyakit jantung koroner bagi para perempuan yang mulai menggunakan TH sebelum usia 60 tahun.

Pilihan terapi hormon yang baru, berisi estradiol dan drospirenone, selain efektif mengatasi gejala menopause, juga memberikan nilai tambah bagi para perempuan yang mampu menurunkan risiko terserang penyakit jantung dan pembuluh darah, khususnya jika memulai pengobatan sejak dini.

Obat ini mengandung progestogen terbaru drospirenone, yang memberikan efek penurunan tekanan darah pada para wanita dengan tekanan darah dan mencegah peningkatan berat badan akibat penahanan cairan tubuh yang kerap dipicu oleh estrogen.

Secara bersamaan, pasien akan terkurangkan keluhan rasa kembung, juga berkurangnya efek samping lain yang berhubungan dengan penahanan cairan tubuh yang kerap dialami pada penggunaan TH konvensional. Dengan demikian, para perempuan menopause dapat hidup nyaman untuk tetap melakukan aktivitasnya.
 
< Prev   Next >