Wednesday, 08 September 2010
Home
MENU
| Home |
| About Me |
| KARIXA PRODUK |
| Nursing Set |
| Operating Set |
| Emergency Room |
| Support |
Who's Online
We have 14 guests online| Hanya 7,3% Masyarakat Indonesia Menggosok Gigi Secara Benar |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Monday, 12 October 2009 | |
|
Pdpersi, Jakarta - Perawatan gigi dan mulut memang harus dilakukan sejak dini dan menjadi hal yang penting untuk menjaga kualitas kesehatan tubuh pada umumnya. Tapi, fakta berbicara, bahwa masyarakat cenderung meremehkan urusan gigi dan mulut dan baru berobat setelah dirasa gigi sudah meradang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Secara umum gigi berlubang adalah penyakit kronis yang paling sering dikeluhkan. Penyakit ini mengganggu anak-anak, orang dewasa dan orang tua serta telah berdampak besar terhadap kesejahteraan, kinerja dan tentunya menambah beban biaya untuk perawatan. Fakta tersebut berdasarkan studi mordibitas SKRT Surkesnas pada 2004 yang menyebutkan, penyakit gigi menduduki urutan pertama dari daftar 10 besar penyakit yang paling sering dikeluhkan masyarakat. Adapun keluhan penyakit gigi mengganggu 13% penduduk atau sebanyak 2.620.000 penduduk setiap bulan. Bahkan data yang dirilis Departemen Kesehatan (Depkes) dari Riskesdes 2007 menunjukkan, sebanyak 72% penduduk Indonesia mempunyai pengalaman gigi berlubang (karies) dan sebanyak 46,5% di antaranya karies aktif yang belum dirawat. Hal itu akibat buruknya prilaku masyarakat Indoensia dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Data menujukkan hanya 91,1% pendududk Indonesia usia 10 tahun ke atas telah melakukan sikat gigi setiap hari, namun hanya 7,3% telah menggosok gigi dua kali di waktu yang benar, yaitu pagi hari dan malam sebelum tidur. Dari data tersebut terungkap bahwa perbandingan antara orang yang menggosok gigi pada pagi hari setelah sarapan hanya 12,6% dan menggoosk gigi pada malam hari sebelum tidur sebesar 28,7%. Adapun berdasarkan umur, prosentase orang yang menggosok gigi setiap hari menurun mulai umur 15 tahun dan lebih banyak perempuan (31,6%) yang menggosok gigi sebelum tidur dibandignkan laki-laki (25,5%). Bahkan, hasil indes nasional DMFT adalah 4,85 dengan komponen terbesar kehilangan gigi 3,86. Itu berarti rata-rata setiap orang Indonesia telah kehilangan 4 gigi atau memiliki indikator cabut gigi. Menurut Professional Relationship Manager Pepsodent PT Unilever Indonesia Tbk, Drg Ratu Mirah Afifah, di Indonesia tingkat keluhan penyakit gigi sudah sangat mengkhawatirkan sehingga perlu adanya tindakan edukasi dan penanganan sejak dini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Maka itu, sejak 1995 Unilever/Pepsodent terus melakukan program kesadaran terhadap kesehatan gigi dan mulut kepada anak-anak usia sekolah melalui rangkaian program sekolah. Hingga tahun 2007, Pepsodent telah menggelar sosialisasi di 10.000 sekolah dan 3,8 juta pelajar di seluruh Indonesia. Program itu direncanakan menjangkau 41 kota dan diharapkan dapat menambah sekitar 1 juta pelajar lagi di seluruh Indonesia. Dalam pelaksanaannya, Unilever juga bekerjasama dengan World Dental Federation (FDI) untuk terus aktif memperbaiki kesehatan gigi dan mulut di seluruh dunia sejak 2005 dan program tersebut telah dijalankan di 38 negara. Menurut Tengku Bahdar Djohan, dokter spesialis penyakit dalam, gigi berlubang yang tidak ditambal akan menjadikan lubang semakin dalam dan proses infeksinya dapat berlanjut ke rongga syaraf/pulpa dan menyebabkan timbulnya abses di ujung akar gigi. “Jika abses gigi ini tidak diobati dapat menyebabkan berbagai komplikasi penyakit yang mematikan bagi tubuh lainnya, seperti otak, jantung dan paru-paru. Bahkan, juga berisiko kelahiran prematur dan berat badan bayi lebih rendah dari normal,” ungkap Tengku. Tengku berharap dengan upaya yang di lakukan Pepsodent bisa menggugah kesadaran masyarakat pentignnya menjaga kesehatan mulut dan gigi agar tidak menimbulkan komplikasi penyakit lain. |
| < Prev | Next > |
|---|







